May 2012
47 posts
April 2012
292 posts
1.
kami bersandar merapatkan punggung masing-masing di dinding.
ia tiba-tiba bertanya: untuk apa dinding diciptakan?
dinding, kataku, dibuat untuk memisah-misahkan. yang satu jadi dua atau jadi bilangan-bilangan berlainan. jadi kawan dan lawan. jadi ada aku jadi ada kau.
sebab, sesungguhnya, sebelum ada dinding, segala sesuatu hanya satu. hanya satu.
aku bangkit dan membuka daun-daun jendela. di luar, hujan diguyurkan pada pohonan dan jalanan.
ia memandangku dengan keheranan yang tak biasa, seolah matanya berkata aku sedang tak waras.
2.
ia berdiri dan berjalan menuju jendela, melihat hujan yang membuat orang gegas berjalan, dan rumput-rumput bergigilan.
setelah dinding-dinding didirikan, kataku, orang-orang membuat cela, membuat jendela.
untuk apa, tanyanya.
untuk mengantarkan uap hujan dan jari-jari angin. untuk menghasilkan cuaca dingin
ia masih berdiri di ambang jendela menghadap ke luar, mengamati hujan dan para pejalan. aku berdiri di dekatnya, bersandar di dinding menghadap ke dalam, menunggu pertanyaan lain ia lontarkan, tetapi ia hanya diam.
cuaca dingin membuat tangannya menjemput tanganku, membawanya berkeliling di pinggangnya. aku menariknya ke depanku. rapat. dan memeluknya
aku berbisik di telinganya: apakah kau mau tahu untuk apa cuaca dingin diciptakan?
agar yang terpisah direkatkan. agar yang aku dan yang kau disatukan.
aku mengerti. aku mengerti. aku mengerti. katanya berkali-kali. kita mengerti. kataku.
di luar, hujan masih deras dijatuhkan. orang-orang masih gegas berjalan, sambil menyatukan jemari kiri dan kanan. dan pohon-pohon menangkupkan daunan. begitu juga rerumputan
2006
—dikutip dari buku puisi kedua saya, aku hendak pindah rumah.
seringkali mengganti satu kata yang ada dalam sebuah pertanyaan bisa mengubah cara kita melihat sesuatu.
dulu, dalam perihal-perihal tertentu yang tidak mudah saya ubah, misalnya wajah, saya sering bertanya: kenapa saya dilahirkan dengan wajah tidak lebih cakep?
pertanyaan itu tidak mengubah apa-apa kecuali membuat saya lebih rendah diri, tidak bersyukur, sirik, dan perasaan-perasaan buruk lainnya. :))
pada suatu sore, seorang teman saya sambil tersenyum bilang ‘sesekali dalam bertanya, ubah satu kata menggunakan antonimnya’. saat itu, saya langsung bertanya dalam hati: kenapa saya dilahirkan dengan wajah tidak lebih jelek?
saya tersenyum.
setiap malam
pintu tak kututup
jendela tak kukatup
kuundang angin yang ingin
merasuk jadi meriang di tubuhku
dan merusak suaraku.
aku jatuh cinta
pada suaraku yang berubah
keruh dan basah
sebab di situ, meski samar,
ada suaramu kudengar.
aku jatuh cinta
pada badanku yang gigil
dan keningku yang panas
sebab di situ, berulang kuingat,
rengkuhmu ketat
dan kecupmu hangat.
*
—dikutip dari buku puisi kedua saya, aku hendak pindah rumah.
at the first kiss I felt
something melt inside me
that hurt in an exquisite way
all my longings, all my dreams and sweet anguish,
all the secrets that slept deep within me came awake,
everything was transformed and enchanted
and made sense.~ Herman Hesse
1.
—dengan cecep
bukan. cecep bukan cowok. dia cewek. cantik. namanya memang terdengar sangat cowok. rada tomboy orangnya. dia teman satu kelas saya di tsanawiyah dulu. dia sudah punya anak. tiga. pertama melahirkan, anaknya kembar emas. dua tahun lalu, dia melahirkan anak ketiganya. cecep pacar teman saya. dulu.
saya tidak ingat betul tanggal-hari-bulannya, waktu itu kami sama datang terlambat. guru tidak memperbolehkan kami ikut belajar. sambil menunggu pelajaran berikutnya, kami nongkrong di kantin sekolah. di sebelah kiri kantin itu ada kandang kelinci. saya sering main ke situ—memberi makan kelinci-kelinci atau sekadar melihat-lihat saja.
nah, bosan menunggu jam pelajaran pertama kelar, saya iseng main ke kandang kelinci itu. cecep ikut. anak pemilik kantin juga ikut. dia digendong cecep. namanya randi. masih kecil. kira-kira 2 tahun.
jika ada yang harus disalahkan kenapa saya dan cecep tiba-tiba berciuman di dekat kandang kelinci itu, tentu saja, seekor kecoak dan randi yang akan kami tunjuk. nyaris bersamaan saya mau mencium randi, di gendongan cecep, kecoak itu tiba-tiba hinggap di jilbab cecep. aha, kebetulan yang indah! cecep takut sama kecoak. (saya punya pengalaman seru lain dengan teman perempuan berbeda karena kecoak. heran, kenapa banyak cewek takut sama kecoak!)
cecep kaget, tapi saking kagetnya dia malah tidak bisa berteriak. bibir saya jatuh menimpa pipinya, kira-kira dua jari dari bibirnya. satu detik, dua detik, tiga detik. senyap. saya geser bibir saya menyentuh bibirnya. kemudian kami tiba-tiba sok kaget dan menarik wajah masing-masing. cecep menunduk lalu masuk membawa randi ke kantin.
kejadian singkat itu terjadi saat teman-teman kelas saya sedang belajar aqidah akhlak. membekas? tentu saja. ada ciuman kedua saya dengan cecep? ada. lima hari setelah dia putus dengan pacarnya, di acara perkemahan sabtu-minggu.
2.
—dengan riana
dia adik kelas dan pacar pertama saya. di rumahnya dia tidak dipanggil dengan nama itu. teman-temanya juga tidak memanggilnya seperti itu. itu nama panggilan dari saya. riana adalah tiga suku kata terakhir dari nama depannya.
dia lahir 1 januari. ciuman pertama saya dengannya terjadi beberapa menit sebelum 31 desember 1996 berakhir, beberapa menit sebelum ulang tahunnya.
di rumahnya, dia hanya tinggal bertiga dengan kakek dan neneknya. ibu dan ayahnya tinggal di rumah lain, di kota lain. kamar riana terletak di bagian depan rumahnya. ada jendela di sisi kiri kamarnya. di situ, di jendela itu saya menciumnya. jendela itu tidak tinggi—saya bisa sekalian memeluk riana saat menciumnya.
saya mengantar kado ulang tahun untuknya malam itu. dua album berisi koleksi perangko yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun. kami berdua suka saling berkirim surat.
setelah menyodorokan hadiah itu, dia balas menyodorkan keningnya. saya meletakkan bibir saya di keningnya cukup lama. tidak puas, saya mencium pipinya. lalu bibirnya. lalu…
ciuman kedua saya dengan riana terjadi di perpustakaan sekolah. ibu penjaga perpustakaan menangkap basah. tapi, hehe, dia senyum dan geleng-geleng kepala saja.
3.
—dengan doyok
doyok itu nama panggilan saya untuknya. bagus juga saya memanggilnya begitu, sehingga dalam tulisan ini saya tidak perlu menyebut nama aslinya. dia teman saya. iya, cowok!
suatu malam beberapa malam sebelum perpisahan sekolah, saya dan beberapa teman, termasuk doyok, ke gunung beberapa puluh kilometer dari sekolah. kami berkemah. ceritanya semacam perpisahan kecil-kecilan sebelum perpisahan besar-besaran.
dingin. tentu saja, di gunung. kami berenam tidur dalam tenda yang tidak seberapa besar. saya pikir wajar jika kami saling memeluk untuk saling menghangatkan. kemudian menjadi aneh, bagi saya, saat tiba-tiba doyok yang tidur di sebelah kanan saya, mencium bibir saya. damn! saya kaget dan mendorong badannya—dan menimpa badan teman saya di sebelahnya.
doyok malu dan meminta maaf. saya marah. belakangan, saya menganggap itu kisah lucu saja. setahun setelah kejadian itu, doyok menceritakan beberapa hal tentang kecenderungan seksualnya kepada saya.
tahun 2005, delapan tahun setelah kejadian di gunung itu, doyok meninggal karena kecelakaan.
4.
—dengan kukila
dia juga mantan pacar saya. itu bukan nama aslinya. dulu kami punya sepasang tokoh hayalan. kedua tokoh itu saling berkirim surat di sebuah buku tebal. kukila dan pilang.
jika malam ini buku itu ada di kamar saya, maka saya sebagai pilang akan mengirim surat dan menyerahkan buku itu kepadanya besok harinya. dia akan membalas surat itu sebagai kukila. begitu terus-menerus hingga buku itu penuh dengan surat antara kukila dan pilang.
menjelang kami putus, karena dia dijodohkan orang tuanya dengan lelaki lain, dia sepakat saya mengenangnya sebagai kukila, dan sebaliknya. begitu.
ciuman pertama saya dengan kukila terjadi di ruang tamu rumahnya. saya mengenang ciuman itu dalam sebuah puisi berjudul hujan rintih-rintih yang kemudian menjadi judul kumpulan puisi pertama saya. iya, waktu itu hujan. di rumahnya cuma ada saya, kakaknya, dan dia. kedua adiknya dan orang tuanya sedang di jakarta.
saya mengantarnya pulang dari kampus, seperti biasa. di perjalanan, kami basah. dia meminjamkan salah satu t-shirt miliknya dan membuat segelas teh untuk saya. kakaknya sedang menonton di ruang tengah. dia duduk di dekat saya. saya memegang tangannya, cukup lama, saling menghangatkan telapak tangan.
dia menunduk saja. saya menarik dan mengecup keningnya, setelah sebelumnya mengecup punggung tangannya. dia mendongak dan saya mengecup bibirnya. lalu,… saya tidak mau menceritakannya lebih detil lagi. hehe.
oh, iya, kukila itu berarti burung dan pilang berarti pohon. keduanya bahasa melayu klasik. kami menemukannya di kamus besar bahasa indonesia.
5.
—dengan sebut-saja-dia
saya berciuman dengan tunangan orang! begitu ekspresi kesal saya waktu itu, beberapa saat setelah dengan senang hati menciumnya. dia yang memulai. sumpah, sebelum dia mengatakannya, beberapa menit setelah berciuman, saya tidak tahu dia punya tunangan.
seminggu setelah berciuman itu, ibunya membatalkan pertunangan mereka. sebulan setelah itu, kami pacaran. saya dan dia menelpon ibunya. kami sama merasa bersalah. setahun setelah itu kami putus. sebulan setelah putus, dia menikah dengan lelaki lain. seminggu lalu dia melahirkan anak pertamanya.
ciuman itu terjadi di balkon tempat saya tinggal waktu itu. ini ciuman pertama paling ‘panas’ yang pernah saya lakukan. tapi, saya tentu saja tidak ingin menceritakan lebih detil.
lucu juga, semua mantan pacar saya sudah menikah, yang sebelum dan termasuk sebut-saja-dia ini. tiba-tiba saya berpikir sepertinya bibir saya ini cukup ampuh buat jadi pembuka jodoh orang lain—tapi tidak buat diri saya sendiri.
6.
—dengan mansyur
iya, dia laki-laki. ciuman saya dengannya terjadi saat saya masih berusia kira-kira 9 tahun. dia berkumis dan saya tidak suka dicium lelaki berkumis.
ciuman itu terjadi suatu sore di belakang bus berwarna putih. dia mencium saya setelah memberi saya selembar uang seribu rupiah. saya meronta. saya tidak suka dicium pria dewasa.
ciuman sore itu adalah satu-satunya ciumannya yang saya ingat. bagi saya, itulah ciuman pertama dan terakhirnya. ciuman itu terjadi saat dia mau berangkat dari rumah. dia tidak pernah pulang sejak saat itu.
tahun 2010 lalu saya tahu dia sudah meninggal di sana, entah di mana tepatnya, dua tahun sebelum kabar itu sampai di telinga saya.
mansyur adalah ayah saya.
― makassar, 14/01/2012
1.
saya tersenyum untuk menghangatkan airmata ketika membaca puisi yang kamu kirim hari ini. kamu memasak makanan kesukaan saya untuk sarapan dan makan siangmu. kamu membuat segelas jus tomat untuk menemanimu menjahit baju buat cucu-cucumu. kamu membaca surat saya, seolah meninabobokan rindumu yang selalu kumat. kamu menyiram bunga dan memberi makan kucing-kucingmu sambil mendoakan saya.
ibu, saya merasa sebagai orang paling beruntung di dunia ini. saya pernah mendekam di rahimmu, surga itu, lebih duabelas bulan, bukan sembilan bulan. kehidupan di luar rahim, seperti ibu tahu, tidak lebih serangkaian mimpi buruk yang indah, atau mungkin sebaliknya. sungguh, andai memungkinkan, saya ingin sekali merayakan ulang tahun di rahimmu, mata air seluruh puisi, sekali lagi.
terima kasih, doa, dan segala yang mampu saya beli tidak pernah memadai untuk semua itu, ibu. maaf.
2.
satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh…
kenapa kita harus merayakan hari ulang tahun mengikuti deret hitung? kenapa kita tidak merayakannya secara acak? hari ini, saya ingin sekali merayakan ulang tahun saya yang ketujuh, usia ketika saya masih mampu memeluk kamu dan kamu mampu mencium saya. saya berjanji, tidak akan mengulangi kesalahan saya. saya tidak akan menolak dicium seperti dulu ketika kamu hendak meninggalkan rumah—untuk terakhir kali.
saya percaya, kamu mencintai saya meskipun selama ini kamu cuma berada di surat-surat saya yang tidak pernah terkirim, surat-surat yang ingin sekali tahu alamatmu. tetapi, alangkah saya ragu apakah kamu tahu saya juga mencintai kamu.
hari ini saya ingin sekali merayakan hari ulang tahun saya yang ketujuh, usia ketika kamu masih mungkin mendengar saya mengecupkan kalimat ‘saya mencintai kamu’ sehangat mungkin.
satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh…
kenapa kita harus merayakan hari ulang tahun mengikuti deret hitung, ayah?
3.
saya mencintai kamu dan kehidupan. umur adalah sumur. semoga orang lain bisa minum, mencuci, dan mandi dari mata airmu. selama berulang tahun, diri sendiri.
dalam hidup saya, keduanya sama-sama penting.” —